Mortalitas dan gejala klinis udang windu (Penaeus modonon) pra dan pasca infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang diberi pakan dengan pelapisan ekstrak daun miana (Coleus scutellarioides)
Abstract
Ekstrak daun miana (Coleus scutelariodes) telah digunakan sebagai antivirus, namun efek penggunaan untuk pencegahan virus White Spot Syndrome Virus (WSSV) belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortalitas dan gejala klinis udang windu (Penaeus monodon) yang diberi pakan dengan pelapisan ekstrak daun miana pra dan pasca infeksi WSSV. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin pada bulan Juni sampai Agustus 2023. Selama masa pemeliharaan 25 hari (pra infeksi) dan 5 hari (pasca infeksi), udang windu diberi lima tipe pakan perlakuan konsentrasi pelapisan yang berbeda. Analisis ragam menunjukkan bahwa pelapisan ekstrak daun miana pada pakan tidak berpengaruh signifikan (p>0,05) terhadap mortalitas udang windu pra infeksi, namun pada pasca infeksi berpengaruh signifikan (P<0,05). Uji Tukey HSD untuk pasca infeksi mengindikasikan bahwa mortalitas terendah pada konsentrasi pelapisan 750 µg/mg (33,3%) secara signifikan lebih rendah dibandingkan konsentrasi 125 µg/mg (60,0%), 250 µg/mg (60,0%), dan tanpa pelapisan (93,3%), namun tidak berbeda signifikan dengan konsentrasi 500 µg/mg (46,7%). Pengamatan gejala klinis pasca infeksi menunjukkan infeksi tingkat berat pada perlakuan kontrol serta konsentrasi 125 µg/mg dan 250 µg/mg, infeksi sedang pada konsentrasi 500 µg/mg, dan infeksi ringan pada konsentrasi 750 µg/mg. Secara umum, mortalitas yang lebih rendah dan gejala klinis yang lebih ringan diperoleh pada perlakuan yang diberi pakan dengan pelapisan ekstrak daun miana.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.