Perbandingan Penggunaan Dua Mikroorganisme Lokal Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma Cacao L.)
Abstract
Kakao merupakan komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber devisa negara. Kakao atau (Theobroma cacao L.) juga merupakan komoditas perkebunan yang dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia khususnya di pulau Sulawesi. Kakao merupakan bahan baku utama pembuatan coklat. Komoditas perkebunan ini menjadi salah satu andalan Indonesia lantaran produksinya yang cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi kakao di Indonesia sebesar 706.500 ton pada 2021. Jumlah ini turun 0,97% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 713.400 ton. Melihat trennya, produksi kakao di dalam negeri bergerak fluktuatif dalam satu dekade terakhir. Produksi kakao terbesar terjadi pada 2018 mencapai 767.400 ton. Sementara, produksi terendah terjadi pada 2017 yang hanya sebesar 585,2 ton. Berdasarkan provinsinya, produksi kakao paling besar berada di Sulawesi Tengah sebesar 130.600 ton. Posisinya diikuti oleh Sulawesi Tenggara dengan produksi kakao sebesar 114.800 ton. Salah satu usaha yang perlu menjadi fokus kita dalam upaya peningkatan produktivitas kakao adalah dengan memperhatikan pembibitan kakao. Usaha pemibibitan yang baik diharapkan mampu memberikan bahan tanam dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan didukung dengan kualitas buah yang baik. Untuk mendapatkan hasil panen yang diinginkan perlu adanya upaya-upaya dari luar, salah satunya adalah pemberian pupuk organik cair yang bersumber dari mikroorganisme lokal. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif bibit kakao dengan memanfaatkan bonggol pisang dan nasi basi sebagai bahan baku pembuatan mol. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari konsentrasi pupuk 100ml, 150m dan 200ml. dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Masing-masing ulangan terdiri dari 2 unit, sehingga terdapat 42 unit percobaan ( P0 = kontrol, P1= bonggol pisang 100 ml, P2= bonggol pisang 150 ml, P3= bonggol pisang 200 ml, N1= nasi basi = 100 ml, N2= nasi basi = 150 ml. dan N3= nasi basi = 200 ml.) hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pembarian mikroorgansime lokal nasi basi dengan konsentrasi 150 ml, memberikan pengaruh yang paling baik pada parameter tinggi tanaman dengan hasil 56, 83 cm, untuk parameter jumlah daun, mikroorgansime lokal bonggol pisang dengan konsentrasi 100 dan 150 ml, sama-sama memberikan hasil yakni 21, 50 dan untuk perameter diameter batang pemberian mikroorganisme lokal bonggol pisang dengan konsentrasi 100 ml, memberikan hasil yang paling baik yakni 5,35.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.